MATI
Satu hari, satu menit, satu detik
saja manusia tidak tahu kejadian seperti apa yang akan menimpanya. Selalu berharap
menghabiskannya dengan penuh kebahagiaan walapun itu hanya satu detik, satu
menit, satu jam, dan bahkan satu hari. Tapi bila Tuhan sudah mentakdir kan berhenti
untuk hidup saat itu juga dia akan meninggalkan kehidupan untuk selamanya. Selamanya.
Dan hari itu nampak depan mata.
Melihat orang bergotong royong
mengangkat manusia yang sudah tidak bergerak, mati. Dia diantar dengan kumpulan
orang yang menyayanginya. Orang rumah berisik dengan tangisan mereka, tetangga
sebelah merasa aneh karena baru tadi pagi mereka bertegur sapa namun kemudian tegur
sapa itu menjadi yang terakhir kalinya. Anaknya terus-terusan berurai air mata
sembari memanggil Ibu nya yang berbaring di depannya. Suami, bapak yang sudah
tidak tahu harus berbuat seperti apa duduk termenung sembari menerima usapan
orang yang berkata ‘sabar’ . saudaranya dengan telpon genggam nya berkabar
dengan yang jauh tak luput dari uraian air mata. Doa terus dibacakan oleh tetangga.
Adzan magrib tiba, waktunya memandikan. Diangkat lah dibarengi hujan, basah,
basuh, wangi, di kafani, ditutupi semua celah yang terbuka. Isak tangis tak
berhenti, adiknya datang mencoba untuk tidak menurunkan air mata nya untuk
mencium kakak nya yang terakhir kalinya. Dingin, wangi sabun, keras, mata
tertutup, diam. Sekarang giliran anaknya. Terus mengusap air matanya terus dan
terus untuk mencium ibu nya, hampa, sakit, sakit, sakit. Sholat. Bukan sholat
yang terakhir, tapi di sholatkan untuk terakhir kalinya. “Bila ada salah
mohon dimaafkan, bila ada hutang datanglah kerumahnya keluarga membuka pintu
lebar”. Takbir 7X , salam. Masjid tempat terakhir yang disinggahinya. Tempat tidur
untuk beberapa jam nya. Esok, tempatnya sempit, tidak ada celah, gelap, sunyi,
sepi. Menghadap Sang Maha Pencipta untuk ditanya tanggung jawab nya di dunia. Keburukan
dan kebaikan dipertanyakan dan ditangguhkan oleh diri sendiri. Tak ada yang
bisa jadi contekan, sendiri sungguh sendiri. Di dunia, suami, anak, adik, kaka,
sodara terus berdoa untuk keselamatannya ketika bertemu Malaikat dan Pencipta
agar dimasukan, dikumpulkan dengan orang-orang yang seiman, soleh, dan masuk surga.
semoga doa kami sampai, semoga kebaikan menjadi penolong, semoga keburukan
dihapuskan, semoga api yang sangat panas dijauhkan, semoga dimasukan surga, sampai
bertemu Kembali. Tunggu aku, kita disana. Tempatmu sudah nyaman untuk sekarang,
sakit mu sudah gugur. Selamat dan selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar